New Regular Diharapkan Tidak Terjadi Perang Tarif Kamar

Written by Loli on December 29, 2020 in Efek Covid bagi pariwisata with no comments.

Koster meminta agar pihaknya diberikan waktu untuk menangani pandemi Covid dengan selalu berkoordinasi bersama pemerintah pusat dan juga Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid di tingkat nasional. Selain Kementrian Pariwisata, Dinas Pariwisata Provinsi Bali juga melakukan pengecekan ke berbagai resort dan destinasi wisata. Ditambahkan, IFBEC bali Kini sudah memiliki koperasi pemasaran yang terkait dengan peraturan Gubernur No 99 tahun 2018 dalam pemasaran produk lokal. “Saya setuju kegiatan pariwisata dibuka secara bertahap, pertama lokal, selanjutnya nasional dan terakhir untuk mancanegara. Kegiatan yang akan dibuka harus di verifikasi secara ketat,” terangnya. Sejak virus corona baru, yang mewabah dari China terus menyebar, hingga kini obat maupun vaksin penyebab penyakit Covid-19 ini masih dikembangkan. Selanjutnya seorang employees KONG4D dengan faceshield, sarung tangan medis dan sebuah thermogun telah siap mengecek suhu tubuh pengunjung.

Selain itu, pihak Tim Penanganan COVID-19 diharapkan dapat memantau dan memperbarui perkembangan informasi mengenai COVID-19 yang berada di zonanya. “Namun kami tekankan bahwa pembukaan destinasi bergantung atas keputusan Gugus Tugas Penanganan COVID-19 dan pemerintah daerah. Karena setiap destinasi tentu memiliki situasi dan kondisi yang berbeda,” kata Nia Niscaya. Masyarakat dituntut untuk tetap bekerja, belajar, dan beribadah, dalam pola hidup baru yang diatur dengan protokol kesehatan yang disesuaikan. Karena setiap destinasi tentu memiliki situasi dan kondisi yang berbeda,” ungkap Nia. Pengecekan itu dilakukan guna memastikan kesiapan protokol kesehatan seandainya pariwisata Bali nantinya siap untuk dibuka.

IFBEC Bali Gathering digelar pertama kalinya, setelah pandemi Covid-19 yang mengambil tempat di Vi Ai Pi Legian Kuta, Badung (7/08). Gathering bertujuan memberikan sosialisasi terhadap pelaku pariwisata dalam Etika menerima pada new normal, yakni perubahan prilaku untuk menghadapi hal hal normal dengan protokol kesehatan. Untuk itu, lanjut Made Pria, Indonesia saat ini perlu bergerak cepat berlari dengan sesekali di selingi lompatan-lompatan. Dan kali ini, daerah-daearah yang dominan mengandalkan potensi wisatanya juga harus mampu menata kembali dan mengelola kelimpahan alamnya dengan menyesuaikan ketentuan era new normal dan tertap menjalankan kegiatannya seauai protokol kesehatan.

Mengutip dari kolega sosiolog dari Nanyang Tech University, Prof. Sulfikar Amir, Ph.D., yang juga ahli soal Social Networks and Risk Society, ia sependapat bila infrastruktur kesehatan dan semacamnya menjadi prasyarat utama untuk melakukan new regular. Ini penting, sebab infrastruktur yang ada selama ini belum sepenuhnya menjangkau lapisan masyarakat, semisal seperti mass testing untuk Yogyakarta. “Kami sangat bersyukur dengan kondisi ini dan berterima kasih dengan pemerintah daerah dan komunitas lokal,” kata dia. Oase.id-Kawasan Nusa Dua, Bali direncanakan akan menjadi proyek percontohan penerapan programCleanliness, Health, and Safety untuk destinasi wisata regular baru. Baik pengelola maupun wisatawan, diwajibkan mengenakan masker saat melakukan aktivitas wisata.

Bali menjalankan New Normal

Pertanyaannya kemudian, apakah masyarakat umum juga memerlukan minyak dan “boreh”? Kalau jawabannya ya, dengan mudah kita bisa memahami bahwa akan terbentuk usaha penyediaan “boreh” untuk masyarakat lokal, bukan untuk turis. Contoh yang sama terjadi pada penyediaan bahan makanan di resort, toh pemasok bahan makanan tersebut bisa memasok masyarakat lokal bahkan kalau punya kapasitas bisa melayani ekspor. Dengan pengalaman melayani lodge yang terbiasa dalam standar kualitas pariwisata kemudian menjadi bekal penting untuk melayani pelanggan lain di luar bisnis pariwisata. Dan, ketika semua ini dibangun dalam konteks industri maka pelayanan kepada wisatawan dan bukan wisatawan akan sama yaitu selalu memperhatikan kaidah-kaidah industri. Ketika Bali bertekad untuk membangun kemandirian ekonomi dan pangan dengan tidak terlalu tergantung semata pada sektor pariwisata, salah satu cara justru harus mulai dari memanfaatkan keunggulan Bali pada industri pariwisata itu sendiri.

Comments are closed.